4 Prinsip Manajemen Keuangan Keluarga
Bersyukur, keterbukaan, saling percaya, dan cita-cita keluarga adalah pilar penting dalam manajemen keuangan keluarga.
Persoalan uang sering dituding sebagai biang pemicu perselisihan dalam keluarga. Bagaimana sebaiknya pasangan suami-istri mengelola keuangan keluarga, paparan berikut boleh diambil manfaatnya.
Mengutip sebuah artikel, menurut Drs Richard Sutrisno, staf pengajar di LPPM, persoalan keuangan keluarga, bisa dibagi menjadi dua golongan berdasarkan penyebabnya, yaitu karena kurangnya jumlah dana dan tiadanya keterbukaan di antara pasutri.
Menurut pengalamannya sebagai konsultan masalah rumah tangga, masalah kekurangan uang banyak terjadi di kalangan ekonomi menengah bawah, sedangkan masalah ketidakterbukaan sering muncul di keluarga kelompok ekonomi atas. Namun kelebihan atau kekurangan uang itu relatif.
Karena itu perlunya mengucap syukur akan mengatasi sikap pasangan yang selalu merasa kurang. Repot kalau bicara masalah kurang. Bila pendapatan bertambah, uang yang dibelanjakan juga akan melar.
Jadi jatuhnya akan kurang terus. Maka, cobalah mengucap syukur dengan cara membandingkan dengan orang yang kemampuan ekonominya di bawah kita. Senjata pamungkas lain adalah keterbukaan, mulai terhadap jumlah dana yang ada, jenis keperluan, dan cara memenuhinya.
Lambat laun keterbukaan akan menggiring pasangan suami-istri (pasutri) pada satu titik saling mempercayai dan menghargai. Dengan itu si istri tidak hanya akan menghargai besar-kecilnya penghasilan, tapi juga menghargai usaha dan kerja keras sang suami.
Dalam sebuah keluarga, juga perlu adanya cita-cita keluarga yang dipahami oleh seluruh anggota keluarga. Cita-cita ini yang nantinya akan menjadi rujukan dalam pengaturan prioritas belanja keluarga.
Prinsip bersyukur, keterbukaan, saling percaya, dan cita-cita keluarga berlaku juga bagi pasutri yang sama-sama memiliki penghasilan. Karena jika uang hasil suami ataupun istri dikelola berdasarkan empat prinsip tersebut, tidak ada lagi istilah ini uangmu atau ini uangku.
Empat prinsip tersebut tidak hanya perlu dimiliki oleh suami-istri, namun juga setiap anggota keluarga, sesuai dengan tingkat umur dan kedewasaannya. Anak yang telah dewasa bisa diperkenalkan pada realitas mencari dan membelanjakan uang.
Misalnya, mahasiswi tingkat akhir diberi kesempatan mengatur uang belanja keperluan rumah selama satu bulan. Sehingga selain belajar bertanggung jawab, anak pun merasa dipercaya oleh orangtua.
Sedangkan untuk yang lebih muda, misalnya, anak SMU cukup diajari tentang nilai uang. Orang yang memiliki uang harus menggunakannya dengan cara yang baik, karena memperolehnya pun dengan memeras keringat.
Dengan adanya pemahaman tersebut, bila suatu ketika keluarga mengalami persoalan keuangan, seluruh anggota keluarga dapat ikut serta, saling membantu dalam mengatasinya.

0 komentar:
Posting Komentar