Judul : Sudesi (Sukes dengan Satu Istri)
Penulis : Arswendo Atmowiloto
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Tebal : 456 halaman
Tahun : Januari 2010
Lembaga
pernikahan yang sering dianggap sakral ternyata mengalami pereduksian
makna dalam masyarakat kontemporer. Pernikahan yang sarat dengan
nilai-nilai kesetiaan, pengabdian dan serta pengorbanan, kemudian
ditaburi perselingkuhan, kebohongan serta berbagai kepalsuan.
Persoalannya
kemudian, masihkah ada orang yang dapat sanggup mempertahankan
pernikahan yang serba suci itu manakala lingkungan sekitarnya
seolah-olah membenarkan terjadinya berbagai bentuk pengkhianatan. Lebih
ekstrim, apakah lembaga perkawinan masih layak dipertahankan sebagai
wadah penyatuan dua individu, baik secara formal ataupun agama
Novel
Sudesi (Sukses dengan Suatu Istri) tampaknya ingin memberikan sebuah
lapangan perenungan mengenai persoalan-persoalan tersebut. Lewat
pengalaman dan sepak terjang tokoh-tokohnya, Sudesi yang ditulis oleh
Arswendo Atmowiloto, memperlihatkan kecenderungan ini.
Sebut saja
tokoh Ibu Sukmono, istri Jati Sukmono penggagas Sudesi, yang kemudian
berselingkuh dengan seorang fotografer ternama ketika suaminya tengah
meringkuk di dalam penjara. Perselingkuhan yang diawali ketika Ibu
Sukmono meminta untuk dipotret dalam pose tanpa busana itu, ternyata
dapat terjadi begitu saja tanpa diakhiri rasa penyesalan maupun
penghakiman yang berujung kepada akibat-akibat yang merepresentasikan
“hukuman Tuhan” terhadap mereka.
Tentu saja novel ini tidak ingin
menunjukkan bahwa perselingkuhan merupakan sesuatu yang pantas ditiru
ataupun sesuatu yang bersifat relatif. Novel ini juga tidak berusaha
mengonstruksi sebuah pemikiran bahwa perselingkuhan adalah sesuatu yang
salah dalam pandangan relijiusitas. Sebaliknya, pembaca dibiarkan untuk
menikmati alur cerita sebagaimana adanya, dan membuat penilaian
tersendiri atasnya.
Beberapa kisah tokoh lainnya dalam novel ini
juga menunjukkan bahwa pernikahan telah telah menjadi sesuatu yang
absurd, misalnya saja kisah Bambang, seorang wartawan yang mendapat
kesempatan untuk menuliskan biografi Ismi Patria, istri anak bungsu
Tunjung Suanta, sekaligus istri dari Indrawan, seorang pengusaha kaya
yang sanggup memberikan apa saja.
Tidak terjelaskan apa yang
sebenarnya terjadi dengan pernikahan Ismi, yang akrab dipanggil dengan
Ibu Ais, dengan Indrawan. Namun Indrawan menyetujui saja ketika Ibu Ais
ingin membuat sebuah biografi dan menunjuk Bambang, saeorang wartawan,
untuk menuliskan biografi itu.
Maka, dengan segala fasilitas yang
mewah yang disiapkan oleh Bu Ais sendiri, Bambang berkesempatan masuk
ke dalam kehidupan Ibu Ais. Ia dapat mengikuti segala aktivitas Ibu Ais,
mengamati perilakunya, melakukan wawancara, dan bahkan jatuh cinta
kepadanya.
Dari sinilah dimulai sebuah perselingkuhan dengan
perjanjian di atas kertas antara Ibu Ais dan Bambang. Sebelum memulai
perselingkuhan, Bambang diminta untuk memenuhi sejumlah persyaratan,
termasuk syarat kesehatan yang harus dibuktikan dengan surat keterangan
dari dokter. Bagi Bambang ini adalah sesuatu yang aneh, tidak masuk akal
dan terlalu rumit untuk sebuah perselingkuhan. Anehnya lagi,
perselingkuhan ini dilakukan dengan persetujuan suami Ibu Ais.
Semua
kisah dalam novel ini memperlihatkan bahwa penikahan adalah sesuatu
yang pelik, dan tidak gampang dilakukan dalam dunia kontemporer.
Pernikahan yang dijalani dapat saja menjadi lembaga yang sakral, namun
pengkhianatan terhadapnya sangat terbuka lebar. Tinggal bagaimana
seorang individu memahami secara benar hakikat pernikahan, dan konsisten
dengan janjinya untuk selalu setia pada psangannya.***
2.10.10
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar