Judul : Batavia 1740, Menyisir Jejak Betawi
Penulis : Windoro Adi
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Terbit : I, Agustus 2010
Halaman : 479 Halaman
Penulis : Windoro Adi
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Terbit : I, Agustus 2010
Halaman : 479 Halaman
Berbicara menangani etnis Betawi, tidak lagi sekadar berbicara mengenai pengaruh Arab maupun Cina. Kini persoalannya adalah bagaimana identitas etnis ini dapat bertahan seiring percepatan perubahan Jakarta yang enggan berhenti.
Jumlah pendatang yang tidak pernah surut, budaya
asing yang terus menggempur, telah membuat identitas Betawi kian tidak
terlihat. Padahal, semestinya, identitas budaya ini tetap kental
meskipun Jakarta telah menjadi sebuah metropolitan.
Kira-kira,
itulah yang ingin disampaikan Windoro Adi lewat buku ini. Ia seperti
ingin memperlihatkan bahwa identitas Betawi perlahan-lahan memang
tergeser dan terpinggirkan. Di sana-sini memang mencoba untuk bertahan,
tetapi tetap saja menjadi bagian minor.
Sebut saja musik
gambang kromong. Musik yang lahir dari kantong-kantong budaya Cina yang
tersebar di sejumlah tempat di Jakarta ini, kini semakin tidak
dihiraukan oleh generasi muda. Pertumbuhan kelompok musik gambang
kromong dapat dipastikan jauh di bawah pertumbuhan kelompok musik pop.
Akhirnya
seperti yang terlihat, pemain musik gambang kromong didominasi para
pemain tua. Mereka tetap setia bermain gambang kromong bukan karena
musik itu menghasilkan pendapatan yang lumayan, tetapi karena kecintaan
mereka dalam memainkan musik tersebut.
Hal yang sama
terjadi juga dengan lenong. Drama yang sarat komedi ini perlahan semakin
jarang dilihat, baik di gedung kesenian maupun di televisi. Entah
kenapa. Apakah karena kesenian ini dianggap kelas dua, sehingga kurang
bernilai jual ketimbang kesenian lain seperti ketoprak misalnya.
Apakah
mungkin hal tersebut disebabkan kesenian-kesenian ini belum dapat
sepenuhnya tampil lebih berani, dalam arti keluar dari pakem agar lebih
dapat diterima oleh masyarakat luas. Mungkin jawabannya "ya".
Jika
demikian, mengapa kesenian Betawi kurang dapat beradaptasi? Padahal,
sepanjang sejarah, seperti dikisahkan dalam buku ini, masyarakat Betawi
sendiri sebenarnya terbentuk dari akulturasi sejumlah etnis, artinya ada
sifat keterbukaan dan toleransi tersimpan di sana. Jika begitu,
sebenarnya kesenian Betawi lebih dapat beradaptasi.
Kekurangpedulian
otoritas terkait terhadap masalah ini menjadi salah satu faktor
penyebabnya. Pembiaran terhadap masalah yang terjadi terus memperparah
masalahnya. Perkembangan kota Jakarta yang tidak dapat dihentikan dan
cenderung tidak terkendali, membuat identitas Betawi kian pudar.
Ketidakpedulian
otoritas terkait juga terlihat dalam bagaimana cara mereka
memperlakukan peninggalan peninggalan sejarah. Banyak bangunan
bersejarah di Jakarta yang memang tidak mendapatkan perhatian. Banyak
gedung dinyatakan sebagai heritage kota, namun gedung-gedung tersebut
dibiarkan begitu saja. Bahkan nasibnya seakan tidak dihiraukan, ketika
bangunan tersebut diambil alih oleh pihak swasta. Parahnya banyak gedung
yang dirobohkan kendati bangunan tersebut bernilai sejarah.
Selain
itu, penulis buku ini juga ingin mengajak pembaca bernostalgia. Banyak
cerita mengenai suatu tempat yang disampaikan dalam buku ini yang memang
hanya tinggal cerita. Misalnya saja kawasan Rawa Belong. Dikisahkan
dalam buku ini bahwa Rawa Belong pada suatu masa menjadi tempat yang
terkenal seantero Jakarta.
Kondanganya tempat ini tentu
saja tidak telepas dari keberadaan para jagoan silat yang berada di
wlayah Rawa Belong. Tidak mengherankan jika kemudian Rawa Belong jadi
pusat latihan silat di masa itu. Murid-muridnya pun datang dari berbagai
daerah di Jakarta. Bahkan kemudian sejumlah guru silat legendaris lahir
di sini.
Tetapi dimana jejak masa emas Rawa Belong saat
ini? Hampir tanpa bekas. Kini kawasan Rawa Belong lebih terkenal dengan
kawasan kuliner Betawi. Beberapa kedai nasi udik Betawi mangkal di
sekitar kawasan ini. Sisanya adalah pertokoan biasa dan perkampungan
mahasiswa.
Untung saja, tradisi seperti "buka palang
pintu", yakni adu silat dalam penyambutan pengantin laki-laki, masih
dapat ditemui di wilayah itu. Dengan begitu jejak Rawa Belong sebagai
"gudang" jago cingkrik (silat Betawi) masih dapat dilihat.
Selain
itu, buku ini juga menyinggung beberapa jenis makanan khas Betawi.
Makanan yang tebilang klasik diulas dalam buku ini, mulai dari kembang
goyang, tape uli, gemblong sampai cucur. Makanan ini memang kalah pamor
dengan kue-kue yang dijual di pusat-pusat belanja. Tetapi kue-kue
tradisional nan klasik tentu masih mendapat tersendiri di hati
masyarakat.
Makanan khas Betawi yang diulas secara khusus
dalam buku ini adalah nasi kebuli. Meskipun nasi kebuli mendapatkan
sentuhan dari Yaman Selatan namun orang Betawi sudah memiliki racikan
spesial yang telah pas di lidah orang Betawi. Di buku ini ditulis dimana
saja pembaca dapat mencicipi nasi kebuli tersebut.
Kelebihan
buku ini adalah kemampuan penulisnya untuk melakukan penelusuran dan
pengamatan di lapangan. Apalagi sejumlah wawancara dilakukan dengan
narasumber yang tepat. Inilah yang membuat buku ini semakin hidup,
terutama bagi mereka yang berada di Jakarta. Dengan membaca buku ini,
pembaca akan mengetahui lebih banyak kisah maupun sejarah di balik
gemerlap dan kelamnya Jakarta.
Batavia 1740 bukan sekadar
ikhwal Betawi, tetapi juga sebuah cara untuk melihat bagaimana sebuah
kultur terbangun dan berproses. Apakah kemudian proses tersebut akan
terhenti atau justru punah karena kemajuan jaman.***

0 komentar:
Posting Komentar