Persoalan uang sering dituding sebagai biang pemicu
perselisihan dalam keluarga. Bagaimana sebaiknya pasangan suami-istri mengelola
keuangan keluarga, paparan berikut boleh diambil manfaatnya.
Mengutip sebuah artikel, menurut Drs Richard Sutrisno, staf
pengajar di LPPM, persoalan keuangan keluarga, bisa dibagi menjadi dua golongan
berdasarkan penyebabnya, yaitu karena kurangnya jumlah dana dan tiadanya
keterbukaan di antara pasutri.
Menurut pengalamannya sebagai konsultan masalah rumah
tangga, masalah kekurangan uang banyak terjadi di kalangan ekonomi menengah
bawah, sedangkan masalah ketidakterbukaan sering muncul di keluarga kelompok
ekonomi atas. Namun kelebihan atau kekurangan uang itu relatif.
Karena itu perlunya mengucap syukur akan mengatasi sikap
pasangan yang selalu merasa kurang. Repot kalau bicara masalah kurang. Bila
pendapatan bertambah, uang yang dibelanjakan juga akan melar.
Jadi jatuhnya akan kurang terus. Maka, cobalah mengucap
syukur dengan cara membandingkan dengan orang yang kemampuan ekonominya di
bawah kita. Senjata pamungkas lain adalah keterbukaan, mulai terhadap jumlah dana
yang ada, jenis keperluan, dan cara memenuhinya.
Lambat laun keterbukaan akan menggiring pasangan suami-istri
(pasutri) pada satu titik saling mempercayai dan menghargai. Dengan itu si
istri tidak hanya akan menghargai besar-kecilnya penghasilan, tapi juga
menghargai usaha dan kerja keras sang suami.
Dalam sebuah keluarga, juga perlu adanya cita-cita keluarga
yang dipahami oleh seluruh anggota keluarga. Cita-cita ini yang nantinya akan
menjadi rujukan dalam pengaturan prioritas belanja keluarga.
Prinsip bersyukur, keterbukaan, saling percaya, dan
cita-cita keluarga berlaku juga bagi pasutri yang sama-sama memiliki
penghasilan. Karena jika uang hasil suami ataupun istri dikelola berdasarkan
empat prinsip tersebut, tidak ada lagi istilah ini uangmu atau ini uangku.
Empat prinsip tersebut tidak hanya perlu dimiliki oleh
suami-istri, namun juga setiap anggota keluarga, sesuai dengan tingkat umur dan
kedewasaannya. Anak yang telah dewasa bisa diperkenalkan pada realitas mencari
dan membelanjakan uang.
Misalnya, mahasiswi tingkat akhir diberi kesempatan mengatur
uang belanja keperluan rumah selama satu bulan. Sehingga selain belajar
bertanggung jawab, anak pun merasa dipercaya oleh orangtua.
Sedangkan untuk yang lebih muda, misalnya, anak SMU cukup
diajari tentang nilai uang. Orang yang memiliki uang harus menggunakannya
dengan cara yang baik, karena memperolehnya pun dengan memeras keringat.
Dengan adanya pemahaman tersebut, bila suatu ketika keluarga
mengalami persoalan keuangan, seluruh anggota keluarga dapat ikut serta, saling
membantu dalam mengatasinya.
0 komentar:
Posting Komentar