Dan pelan-pelan lampu disegenap sudut ruangan diredupkan. Lalu lamat-lamat
terdengar alunan musik lembut nan menyentuh hati. Suasana sejenak menjadi
senyap. Dalam desau keheningan, sang instruktur lalu melantunkan kalimat demi
kalimat nan syahdu tentang kebesaran Sang Ilahi, sembari mengingatkan deretan
dosa yang telah dilakukan kepada orang tua, saudara, kerabat dan sahabat.
Perlahan-lahan, isak tangis terdengar di setiap sudut ruang, dan kemudian
puluhan atau bahkan ratusan peserta training itu tenggelam dalam raungan
tangis, dalam sembilu kepedihan dan penyesalan atas segenap dosa yang telah
mereka perbuat sepanjang umur selama ini.
Itulah salah satu segmen yang akan kita temui jika kita mengikuti training
ESQ atau training sejenisnya yang mengusung tema tentang spiritualitas dan etos
kerja. Ribuan peserta – termasuk para pejabat BUMN dan pemerintah daerah –
telah mengikuti training itu, dan ribuan orang itu selalu tenggelam dalam momen pengakuan
dosa massal dalam haru biru penuh tangis penyesalan.
Pertanyaannya : kenapa beberapa bulan sesudah itu, para peserta kembali
melakoni ritual lama, kembali melakukan suap menyuap, praktek kolusi, korupsi
dan sejenisnya; dan juga kenapa kinerja perusahaan atau organisasi mereka tak
kunjung meningkat secara dramatis. hayo kenapa?
Salah satu sebab yang paling fundamental adalah ini : para peserta atau
organisasi penyelenggara training semacam ESQ itu belum melakukan (atau mungkin
malas ?) melakukan pengukuran efektivitas training secara tuntas dan
sistematis.
Dan akibatnya adalah sebuah tragedi : segenap training yang telah
menghabiskan anggaran milyaran rupiah itu hanya terpelanting menjadi “tangisan
sesaat” saja. Hanya heboh saat training yang seiring dengan berlalunya waktu, setelah
tiga – enam bulan, dilupakan begitu saja. Duh.
Harus diakui proses mengukur efektivitas training secara komprehensif
memang bukan hal yang mudah. Namun itu bukan berarti kegiatan pengukuran ini
tidak bisa dikerjakan dengan baik dan benar. Hanya sayangnya, masih banyak
praktisi SDM yang alpa melakukannya dengan tuntas. Mereka lebih bersemangat
saat melakukan proses analisa kebutuhan dan rencana training. Mereka juga
antusias ketika melakukan proses training – persis seperti yang mereka alami
ketika tenggelam dalam “tangisan massal” a la training ESQ itu.
Namun sayangnya, antusiasme dan semangat itu seperti mendadak lenyap ketika
sudah tiba pada fase pengukuran efektivitas training secara sistematis. Mereka
mungkin mengira bahwa proses training sudah selesai sesaat setelah sang trainer
menyudahi sesi mereka. Padahal sesi training itu sendiri sesungguhnya justru
merupakan awal – bukan akhir – dari sebuah proses pembelajaran yang
berkelanjutan dan berjangka panjang.
Jadi, bagaimana mungkin gemuruh semangat training itu akan dapat memberikan
umpan balik yang signifikan, jika proses pengukuran efektivitasnya tak pernah
dilakoni dengan penuh kesungguhan?
Problem seperti diatas mungkin akan segera dapat diatasi dengan melakukan
proses pengukuran efektivitas training. Mulai dari tahap pengukuran kepuasan
peserta training, tahapan implementasi materi training hingga tahapan untuk
mengukur dampak pelatihan terhadap kinerja bisnis perusahaan.
Kita harus melakukan pengukuran secara sistematis atas dampak pelatihan
terhadap kinerja individu dan organisasi. Dan disini sungguh diperlukan skema
monitoring yang teratur dan konsisten untuk memastikan bahwa materi training
benar-benar diaplikasikan dalam kenyataan sehari-hari. Sebab hanya dengan skema
monitoring yang reguler inilah, sebuah sesi training bisa memberikan dampak yang
optimal bagi peningkatan kinerja.
Secara spesifik, skema monitoring ini setidaknya mesti mencakup dua elemen
kunci. Elemen yang pertama post-training action plan yang
berisikan serangkaian rencana tindakan konkrit yang harus dilakukan oleh para
peserta untuk mengaplikasikan materi training yang telah dipelajari. Didalamnya
termuat secara rinci jenis tindakan apa yang akan dilakukan, kapan dilakukan
dan target spesifik apa yang ingin diraih.
Elemen yang kedua adalah adanya sesi monitoring yang reguler dan dilakukan secara kontinyu,
misal setiap 2 bulan sekali selama 24 bulan berturut-turut. Dalam sesi ini
mesti hadir para peserta training, pihak atasan, dan juga fasilitator training.
Melalui
sesi-sesi inilah, pelaksanaan action-plan tadi dipantau dan diuji kemajuannya.
Melalui serangkaian sesi ini pula, dibangun sebuah proses kunci : yakni
bagaimana menginjeksikan kebiasaan dan perilaku baru sesuai dengan tujuan
training.
Keseluruhan proses diatas memang panjang, dan melelahkan. Namun hanya melalui
skema semacam inilah sebuah materi training akan terus mengendap dalam jejak
sanubari para pesertanya.
Sebaliknya, tanpa sistem monitoring yang berjangka panjang dan sistematis,
sebuah materi training – betapapun dahsyat isinya – hanya akan menguap dalam
hitungan bulan…… gone with the wind.
Dan air mata pengakuan dosa yang mengharu biru itu, percayalah, akan segera hilang tak berbekas, disapu oleh angin……..
Dan air mata pengakuan dosa yang mengharu biru itu, percayalah, akan segera hilang tak berbekas, disapu oleh angin……..

0 komentar:
Posting Komentar