Bekatul di Indonesia sudah sejak lama dimanfaatkan, tetapi
umumnya baru sebatas sebagai pakan ternak dan ikan. Padahal temuan-temuan iptek
terbaru telah menempatkan bekatul sebagai salah satu bahan pangan dengan nilai
gizi relatif tinggi sehingga memiliki nilai ekonomi yang tinggi.
Wisnu Broto dkk dari Balai Besar Penelitian dan Pengembangan
Pascapanen Pertanian dalam satu paparan mereka menyatakan berbagai penelitian
dan pengalaman empirik memperlihatkan komponen gizi dalam bekatul berkhasiat
mengatasi berbagai masalah kesehatan, sehingga bekatul (rice polish) disebut
sebagai “the super food of the century”. Bekatul yang sudah diolah/diawetkan
dapat digunakan untuk pengayaan (fortifikasi) makanan dan formulasi makanan
fungsional.
Bekatul mengandung protein, lemak, berbagai vitamin seperti
vitamin B1 dan E, mineral seperti fosfor dan magnesium dan serat diet (dietary
fibre). Kadarnya bergantung pada jenis padi bersangkutan. Selain itu bekatul
juga mengandung berbagai zat/senyawa yang berkaitan dengan khasiat mengatasi
masalah kesehatan.
Di antaranya asam ferulat yang mendukung sistem kekebalan
tubuh, gamma oryzanol untuk kesehatan lambung, keseimbangan hormonal, dan
mengoptimalkan pertumbuhan otot. Vitamin B yang bisa membantu mengatasi
penyakit diabetes mellitus, hipertensi, koletserol tinggi dan arteriosklerosis.
Juga tocotrienol, satu jenis anti oksidan yang kuat sekali dengan kemampuan
6.000 kali aktivitas antioksidan vitamin E.
Dikemukakan bahwa di Indonesia bekatul yang hasil samping
penggilingan padi itu cukup melimpah, yakni 2-3% dari total gabah. Tetapi belum
sepenuhnya dimanfaatkan sebagai sumber pangan dan pakan. Pemanfaatan bekatul
sebagai sumber gizi yang tinggi belum berkembang di Indonesia. Nilai tambah
yang dikandung bekatul bisa memberi sumbangan berarti bagi pendapatan petani
atau kelompoknya, bila mereka juga mengelola sendiri usaha penggilingan padi.
Bekatul diperoleh sebagai hasil samping proses penyosohan
ganda (dua tahap) beras pecah kulit dari penggilingan padi. Pada penyosohan
tahap pertama, hasil sampingnya berupa dedak yang berasal dari bagian perikarp,
nuselus, segmen, lapisan aleuron, dan lembaga beras. Pada penyosohan tahap
kedua dari beras dikeluarkan utamanya bagian sub-aleuron dari endosperm. Di
Indonesia penyosohan beras umumnya dilakukan satu tahap saja dan menghasilkan
dedak bercampur bekatul.
0 komentar:
Posting Komentar