27.9.09

Bekatul Untuk Formulasi Aneka Makanan


Bekatul di Indonesia sudah sejak lama dimanfaatkan, tetapi umumnya baru sebatas sebagai pakan ternak dan ikan. Padahal temuan-temuan iptek terbaru telah menempatkan bekatul sebagai salah satu bahan pangan dengan nilai gizi relatif tinggi sehingga memiliki nilai ekonomi yang tinggi.

Wisnu Broto dkk dari Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian dalam satu paparan mereka menyatakan berbagai penelitian dan pengalaman empirik memperlihatkan komponen gizi dalam bekatul berkhasiat mengatasi berbagai masalah kesehatan, sehingga bekatul (rice polish) disebut sebagai “the super food of the century”. Bekatul yang sudah diolah/diawetkan dapat digunakan untuk pengayaan (fortifikasi) makanan dan formulasi makanan fungsional.

Bekatul mengandung protein, lemak, berbagai vitamin seperti vitamin B1 dan E, mineral seperti fosfor dan magnesium dan serat diet (dietary fibre). Kadarnya bergantung pada jenis padi bersangkutan. Selain itu bekatul juga mengandung berbagai zat/senyawa yang berkaitan dengan khasiat mengatasi masalah kesehatan.

Di antaranya asam ferulat yang mendukung sistem kekebalan tubuh, gamma oryzanol untuk kesehatan lambung, keseimbangan hormonal, dan mengoptimalkan pertumbuhan otot. Vitamin B yang bisa membantu mengatasi penyakit diabetes mellitus, hipertensi, koletserol tinggi dan arteriosklerosis. Juga tocotrienol, satu jenis anti oksidan yang kuat sekali dengan kemampuan 6.000 kali aktivitas antioksidan vitamin E.

Dikemukakan bahwa di Indonesia bekatul yang hasil samping penggilingan padi itu cukup melimpah, yakni 2-3% dari total gabah. Tetapi belum sepenuhnya dimanfaatkan sebagai sumber pangan dan pakan. Pemanfaatan bekatul sebagai sumber gizi yang tinggi belum berkembang di Indonesia. Nilai tambah yang dikandung bekatul bisa memberi sumbangan berarti bagi pendapatan petani atau kelompoknya, bila mereka juga mengelola sendiri usaha penggilingan padi.

Bekatul diperoleh sebagai hasil samping proses penyosohan ganda (dua tahap) beras pecah kulit dari penggilingan padi. Pada penyosohan tahap pertama, hasil sampingnya berupa dedak yang berasal dari bagian perikarp, nuselus, segmen, lapisan aleuron, dan lembaga beras. Pada penyosohan tahap kedua dari beras dikeluarkan utamanya bagian sub-aleuron dari endosperm. Di Indonesia penyosohan beras umumnya dilakukan satu tahap saja dan menghasilkan dedak bercampur bekatul.

0 komentar:

Posting Komentar