Bermula
dari temuan Dr. Ernst T. Krebs, ahli Biokimia dari San Francisco, Amerika
Serikat, yang pertama mengisolasi vitamin B15 dari biji aprikot. Kemudian
mengembangkan peneliatiannya tentang vitamin B15 bukan vitamin alami dari
tumbuhan, tapi sintetis (buatan). Krebs menyebut vitamin ini banyak manfaatnya
untuk kesehatan manusia dan vitamin ini banyak terdapat di rice bran alias
kulit ari beras atawa bekatul. Padahal bekatul sangat melimpah di Indonesia.
Beberapa
peneliti di Indonesia yang tertarik meneliti Bekatul antara lain adalah :
Letkol
(Purn.) dr. Yusuf Nursalim (80), dokter pensiunan TNI AD yang masih terlihat
segar dan masih buka praktik di Bandung ini, awal tahun 1960-an membaca
litertur tentang manfaat vitamin B15 buat kesehatan, diantaranya karya Krebs
itu. Karena dr. Liem (begitu biasa dia dipanggil) melihat banyak bekatul yang
melimpah di bumi kita ini, maka dia berminat penelitiannya. Mula-mula ia
menjadikan dirinya sebagai “kelinci percobaan”. Selama sebulan, ia mengonsumsi
bekatul sebagai makanan. Bekatul ia buat sebagai minuman, dicampur dengan susu
atau teh. Pagi 2 senduk makan (20 g), malam 20 g. Dari percobaan itu, ia
merasakan perubahan yang berarti. Badannya lebih fit dan tak gampang lelah jika
melakukan latihan fisik ketentaraan. Buang air besar pun menjadi lebih lancar.
Frekuensianya juga lebih teratur, 1 – 2 kali sehari. Sebelumnya, ia biasa buang
air besar dua hari sekali.
Dengan
maksud agar lebih objektif, ia lalu mencobakan bekatul pada 200 siswa Sekolah
Calon Perwira TNI AD. Masing-masing siswa mendapat jatah 30 g bekatul sehari.
Bekatul dikonsumsi dengan cara dicampur dengan air dan gula kelapa. Selama 2,5
bulan kesehatan mereka terus dipantau. Hasilnya tak beda jauh dengan apa yang
dirasakan oleh Liem. Badan mereka lebih fit, “acara ke belakang” lebih
lancar. Tekanan darah dan kadar kolesterol pun cenderung ke arah ideal. Yang
unik, setelah percobaan singkat ini, para siswa minta pemberian bekatul terus
dilanjutkan. Akhirnya, pemberian makanan tambahan ini pun diperpanjang delapan
bulan lagi.
Menurut
dr. Liem, bekatul sebaiknya dikonsumsi setiap hari seperti beras. Bukan sebagai
“obat” yang dihentikan ketika keluhan penyakitnya sudah hilang. Makanya dr.
Liem selalu memberi resep Bekatul kepada pasiennya (disamping obat lainnya), dia
punya satu prinsip bekatul selalu diberikan disamping obat-obatan lain.
Selama
lebih dari seperempat abad menjadi dokter, ia mengaku telah tak terhitung
berapa kali meresepkan bekatul untuk aneka jenis penyakit. Ia pernah tiga kali
menangani pasien penderita basedov (pembesaran kelenjar gondok akibat
hiperfungsi tiroid). Liem juga beberapa kali menangani pasien penderita
penyakit jantung dengan bekatul. Salah satunya adalah suster perawatnya sendiri
yang mempunyai kelainan elektrokardiogram (EKG). Karena bukan spesialis
jantung, Liem merujuknya ke kardiologis. Pada saat bersamaan, ia juga menyuruh
suster perawat itu makan bekatul. Delapan bulan kemudian, EKG-nya normal.
Perubahan EKG ini pun di luar dugaan si ahli kardiologi maupun Liem sendiri.
Dokter
gaek ini juga pernah menangani kasus diabetes tipe-2 (tidak tergantung insulin)
dengan bekatul. Salah satu kasus dialami oleh seorang insinyur yang, karena
komplikasi diabetesnya, telah mengalami impotensi. Buat Pak Insinyur, Liem
meresepkan tiga hal: program diet, glibenklamida satu tablet sehari, dan
bekatul tiga kali sehari, masing-masing satu sendok makan munjung, penuh.
Setelah
beberapa bulan, kadar gula darah yang mulanya 400 mg/dl berangsur-angsur
normal. Gangguan impotensinya pun teratasi. Ia bisa “bergiat” lagi dengan
istrinya. Bahkan obat glibenkamida pun mulai bisa ditinggalkan. Terapi yang
dijalani tinggal program diet dan makan bekatul tiga kali sehari, masing-masing
dua sendok makan.
Liem
juga mengaku pernah mencobakan bekatul pada penderita diabetes tipe-1 (yang
tergantung insulin). Hasilnya, setelah beberapa bulan, besarnya unit insulin
yang disuntikkan bisa dikurangi hingga separuhnya. Yang mulanya 40 unit menjadi
20 unit.
Banyaknya
pasien yang membaik setelah mengonsumsi bekatul membuat Liem semakin percaya
dengan khasiatnya. Ia pun tak ragu meresepkan bekatul pada penderita asma.
Sebagaimana prinsipnya, ia tetap menganjurkan pasien menggunakan obat-obat
medis seperti aminofilin, steroid, adrenalin injeksi, dan obat hisap
(inhaler) jika dibutuhkan. Setelah beberapa bulan makan bekatul, frekuensi
asma pasiennya sedikit demi sedikit menurun. Karena mengira asmanya sembuh,
pasien kemudian menghentikan konsumsi bekatul. Begitu bekatul disetop, asmanya
kambuh lagi. Sejak itu, ia makan bekatul lagi secara teratur.
Selain
kasus-kasus di atas, Liem juga pernah meresepkan bekatul untuk kasus
hipertensi, koleseterol tinggi, jantung koroner, hingga kegemukan. Diambil
disini
0 komentar:
Posting Komentar