Ditulis oleh Ardiansyah, kandidat Doktor di Lab. of
Nutrition, Tohoku University Sendai, Jepang dan anggota ISTEC
Senin, 07 Januari 2008
Bekatul atau rice bran selama ini hanya digunakan sebagai
pakan ternak. Belum banyak yang mengetahui bahwa lapisan luar dari beras hasil
penggilingan padi ini ternyata mengandung komponen bioaktif pangan yang
bermanfaat bagi kesehatan. Bekatul dapat diperolah sebanyak 10 persen dari
hasil penggilingan padi, yang terdiri dari lapisan aleurone beras (rice
kernel), endosperm, dan germ.
Data dari Departemen Pertanian, diperkirakan pada tahun 2006
produksi beras nasional mencapai angka 54,74 juta ton (Tempo Interaktif, 6 Juli
2006). Sebagai perbandingannya di Amerika Serikat bahwa 10 persen dari total
produksi beras dapat dihasilkan bekatul, sehingga dari 54,75 juta ton produksi
beras nasional diperkirakan akan dihasilkan 5,5 juta ton bekatul. Potensi bahan
baku yang sangat berlimpah jumlahnya tersebut, sehingga perlu dilakukan
usaha-usaha pemanfaatan bekatul sebagai pangan fungsional.
Hipertensi (tekanan darah tinggi) dan hiperlipidemia
(berlebihnya jumlah lemak) merupakan dua kondisi penyebab penyakit kardiovaskuler
dan aterosklerosis. Dua penayakit ini merupakan penyebab kematian yang semakin
meningkat jumlahnya, termasuk di Indonesia.
Richard J. FitzGerald dari Universitas of Limerick,
Limerick, Irlandia menyebutkan bahwa penurunan 5 mmHg tekanan darah sama
artinya dengan menurunkan resiko penyakit kardiovaskuler sebanyak 16 persen.
Oleh karena itu usaha-usaha yang dilakukan oleh para peneliti pangan dan gizi
adalah mendapatkan komponen bioaktif yang terdapat dalam bahan pangan, salah
satunya adalah pemanfaatan bekatul sebagai bahan untuk mencegah hipertensi dan
hiperlipidemia.
Manfaat bekatul
Fraksi lemak dari bekatul telah banyak dilaporkan memberikan
efek menurunkan jumlah lemak darah (hipolipidemia) dengan uji pada hewan
percobaan maupun manusia. Minyak bekatul menurunkan kadar kolesterol darah dan
low density lipoprotein cholesterol (LDL-kolesterol), serta dapat meningkatkan
kadar high density lipoprotein cholesterol (HDL-kolesterol) darah. Kemampuan
fraksi lemak bekatul disebabkan adanya komponen oryzanol dan kemampuan lainnya
dari bahan yang tidak tersabunkan.
Selain itu fraksi non-lemak bekatul ternyata juga memiliki
efek hipolipidemia yang sama dengan fraksi lemak. Selain dapat memberikan efek
hipolipidemia, penelitian penulis menyebutkan bahwa manfaat lain dari fraksi
ini ternyata memiliki kemampuan untuk menurunkan tekanan darah secara nyata.
Percobaan tersebut menggunakan tikus stroke-prone spontaneously hypertensive
rats (SHRSP). SHRSP adalah spesies tikus yang secara genetik mengalami hipertensi
dan hiperlipidemia.
Fraksi non-lemak diperoleh dengan ektraksi menggunakan
ethanol yang dilanjutkan dengan ekstraksi menggunakan Driselase. Driselase
adalah nama produk enzim komersial untuk degradasi dinding sel tanaman yang
terdiri dari selulase, silanase, dan laminarise.
Asam ferulat dan total fenol adalah komponen biaoktif yang
saat ini diketahui terdapat di dalam fraksi bekatul sehingga dapat menurunkan
tekanan darah dan lemak darah, disamping tentunya tokotrienol dan
gamma-oryzanol yang sebelumnya telah diketahui sebagai senyawa antioksidan.
Mekanisme penurunan tekanan darah oleh asam ferulat yaitu dengan menghambat
kerja enzim angiotensin I-converting enzyme (ACE); suatu enzim yang bertanggung
jawab terjadinya peningkatan tekanan darah. Penelitian penulis juga membuktikan
hal tersebut dimana terjadi penurunan aktivitas ACE.
Mekanisme terjadinya penurunan lemak darah diduga melalui
peningkatan kapasitas pengikatan LDL reseptor. Mekanisme lain yang juga
berperan dalam penurunan kolesterol darah adalah peningkatan aktivitas enzim
cholesterol-7 alpha-hydroxylase (Cyp7a1), suatu enzim yang bertanggung jawab
dalam proses biosintesis asam empedu. Peningkatan aktivitas enzim ini akan
menstimulir konversi kolesterol menjadi asam empedu, sehingga dapat menyebabkan
terjadinya penurunan kolesterol dalam darah.
Makanan suplemen
Meskipun penelitian diatas diperoleh dari percobaan
menggunakan hewan, namun data yang diperoleh dapat diekstrapolasikan ke
manusia. Data yang didapatkan sebagai informasi awal untuk dijadikan kajian
lebih lanjut pemanfaatan fraksi non-lemak bekatul sebagai bahan untuk
menurunkan tekanan darah dan jumlah lemak darah pada penderita hipertensi dan
hiperlipidemia.
Saat ini penggunaan bekatul sebagai suplementasi telah
banyak dilakukan, misalnya pada pengolahan biskuit, kue, dan lain-lain.
Pemanfaatan bekatul yang telah diawetkan sebagai makanan sarapan sereal, dengan
perbandingan (persentase) tepung beras: bekatul dari 90:10 sampai dengan 30:70.
Substitusi bekatul padi 15 persen pada tepung terigu dilaporkan memberikan
hasil yang optimal terhadap penerimaan cookies dan roti manis. Substitusi ini
dapat meningkatkan kandungan serat pangan (hemiselulosa, selulosa, dan lignin)
dan niasin pada produk (Muchtadi et al., 1995).
Mengkonsumsi bekatul sebagai suplementasi produk-produk
olahan, diharapkan dapat dijadikan saran yang paling tepat untuk mendapatkan
manfaat kesehatannya.
0 komentar:
Posting Komentar