Makin banyak memberi, makin banyak yang kita dapatnya. Salah seorang
mentor saya pernah mengatakan demikian. Pikiran usil saya selalu
bertanya, ah masa? Bukannya makin banyak memberi, kita makin tidak
punya apa-apa? Bener tidak sih? Boro-boro memberi, untuk diri sendiri
saja masih seringkali kekurangan.
Iseng-iseng saya praktikkan.
Eh tidak sengaja sih saya praktikkan. Suatu saat saya sedang tidak
punya uang. Tapi saya ingin sekali membelikan makanan untuk tuna wisma
yang ada di dekat gang rumah saya. Toh dengan uang 10 ribu, saya bisa
membeli nasi rames sederhana untuk saya dan dia. Sama-sama kenyang,
sama-sama happy. Eh lha kok malamnya ada yang ngajak dinner.
Hehhehhehhe, asyik kan. Tapi tidak harus aple to aple gitu. Bisa saja
kita berbagi tenaga, pikiran dan hati, menuainya dalam bentuk yang lain
lagi, tak harus saat itu pula. Hitung-hitung tabungan positif atau
deposito kebaikan.
Dari pelajaran kecil tersebut, semakin
sering saya berbagi. Apa saja. Kalau punya uang ya uang, kalau punya
pikiran ya sumbangan pemikiran, atau waktu. Jadi, di waktu saya yang
sempit untuk berleha-leha saat weekend, saya mendedikasikan diri untuk
membantu menyiapkan buku-buku untuk dibagikan kepada siapa saja yang
ingin membuat perpustakaan untuk anak-anak di wilayahnya.
Tak
banyak sih yang saya berikan. Mungkin lebih banyak waktu untuk ke mall
atau plesiran untuk kesenangan saya pribadi. Tetapi paling tidak saya
mempunyai niatan untuk memperbesar tabungan dan deposito kebaikan ini,
tidak semata-mata ingin mendapatkan hasil balik berlipat-lipat, tetapi
saat ini karena saya memang nyaman melakukannya dari kedalaman hati
saya.
Mentor saya bilang, kalau kita memikirkan hal positif,
maka vibrasi yang kita dapatkan pun berkali-kali lipat nilai
positifnya. Begitu juga kalau kita memikirkan hal negatif, maka vibrasi
kita pun akan negatif.
Pernah kan kita memikirkan si Wisnu yang sudah sekian belas tahun tidak bertemu, tiba-tiba siangnya secara
kebetulan papasan di mall sebelah kantor. Atau tiba-tiba kepikiran
untuk menghubungi si Ingrid dan sedetik kemudian di layar HP kita
Ingrid pun sudah lebih dahulu menelpon kita.
Seperti itulah gambaran vibrasi kekuatan pikiran kita. Jadi yuk mulai nabung kebaikan, niatnya hanya tulus dan tanpa pamrih.
30.9.09
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar